Sejak seorang seniman homoseksual bernama Andy Warhol memperkenalkan modern pop art dengan kaleng-kaleng kacang dan minuman sebagai objeknya, maka apa yang disebut era modern pop art dimulai.
Dampaknya sampai sekarang bisa dilihat. Tengok saja para remaja pengunjung mall-mall di ibukota. Anda akan mendapati mereka dalam balutan kaus bersablonkan logo “Burger King”, “Starbucks”, sampai cokelat macam “Snickers”. Saat ditanya alasan mereka menjadi serupa dengan papan iklan berjalan tersebut,
mereka berujar singkat, “kausnya keren”.
“Apanya yang keren?”
“Pokoknya keren.”
Padahal, tidak ada keren-kerennya memakai kaus bersablon merek-merek komersial seperti di atas. After all, anda tidak dibayar kan oleh pemilik brand tersebut untuk memakai kaus tersebut. Jadi bayangkan bahagianya para manager lokal mendapati seorang cowok yang memesan Whooper mengenakan kaus bersablon logo “Burger King”.
Pembaharuan seni gaya Warhol mempunyai implikasi lain: desakralisasi. Lihat saja bagaimana kaos dengan potret muka Che Guevara melekat di tubuh so-called anak-anak gaul atau lambang palu arit bersayapnya Aeroflot yang dijadikan logo salah satu tas distro. Juga artwork wajah Mao Zedong yang gemar dipakai oleh mereka-mereka yang sangat mungkin belum pernah mendengar Revolusi Kebudayaan.
Kultur Pop menghipnotis semua orang (baca: remaja dan early 20s) untuk turut berpartisipasi dalam sebuah tradisi: pakailah apa dipakai orang lain, karena menjadi berbeda itu berarti “cupu”, jangan tanya apa arti lambang itu, pokoknya anda terlihat keren.
Sebetulnya definisi dari keren-kerenan menurut budaya pop sungguh lebih kepada bagaimana orang lain menilai apa yang anda pakai (Hey, that’s why they called it Pop). Keren bukan an sich karena anda menilai baju anda keren, tapi karena orang lain mengatakannya demikian.
Kembali kepada masalah desakralisasi. Ini sedemikian parahnya sehingga bisa saja bermodal dreadlocks yang mungkin hasil jahitan, seseorang mengklaim dirinya seorang Rastafarian (padahal kaya katanya Irfan, kalau sakit masih berobat ke dokter. Hihi.).
Salah satu fenomena abad 20, kotak ajaib bernama televisi turut “mensukseskan” proses desakralisasi ini. Apa saja yang nampak di layar kaca, langsung ditiru khalayak ramai. Lucu sekali kalau mengingat bagaimana tiba-tiba setiap siswa SMA merasa dirinya pujangga selepas menonton Ada Apa Dengan Cinta? Buku-buku Chairil Anwar mendadak jadi barang buruan (Padahal buku yang dipakai dalam adegan AADC adalah karangan Sjumandjaja).
Kultur pop acapkali mengingkari makna. Hakikat bisa dilucuti dan digantikan baju baru bernama komersialisasi. Tidak heran anda akan mendapati sepotong kaos Che berharga Rp. 250.000 di Cherokee atau sehelai keffiyeh dengan bandrol lebih dari Rp. 100.000 di Topshop.
Ernesto Guevara dan Yasser Arafat mungkin akan berontak dari dalam kubur bila melihat fakta ini. Ironis.
*Pangeran Siahaan, sir read-a-lot (thx to novy fo remindin'. Hehe.)
Not Once, Not Never
11 tahun yang lalu
